Rumah

Digital clock

Jumat, 29 April 2016

Risalah Pergerakan IMM Jawa Barat



Risalah Pergerakan IMM Jawa Risalah Pergerakan IMM Jawa Barat
Saat pertama kali diamanahi menjadi ketua umum, sejujurnya saya belum mempunyai konsep yang utuh mengenai gerakan DPD IMM Jawa Barat. Pertama, sejak awal saya belum ada bayangan untuk menjadi ketua umum. Kalaupun ada sedikit angan-angan kesana, itupun sebatas angan saja, tak ada langkah-langkah konkret yang saya lakukan untuk mencapainya. Saya serahkan semua pada kehendak Tuhan. Kedua, selayaknya konsep utuh tentang arah gerak ikatan diperoleh dari hasil pembahasan Musyda. Namun sayangnya, materi-materi yang dibahas saat Musyda masih terlalu umum dan normatif. Kader-kader kita masih harus menurunkan rumusan hasil Musyda tersebut ke dalam rumusan yang sifatnya lebih operasional. Selain itu materi Musyda pun terlihat hanya copy paste dengan sedikit perubahan dari rumusan tanfidz DPP. Hal ini membuat pembahasan yang dilakukan serasa mengawang-awang dan kurang membumi.

Menghadapi realitas tersebut, maka saya merasa perlu memikirkan dan membuat sebuah rumusan gagasan mengenai arah dan gerakan DPD IMM Jabar. Setidaknya rumusan yang disusun dapat mengisi kekosongan selama periode ini yakni 2015-2017. Adapun setelahnya dari rumusan ini diharapkan menghasilkan feedback dari para pimpinan dan kader untuk melahirkan gagasan-gagasan lainnya yang mengkoreksi dan menyempurnakan gagasan ini. Diharapkan pula ke depan lahir gagasan dari hasil kerja kolektif intelegensia IMM Jawa Barat.

Satu hal yang mengusik saya selama ber-IMM adalah persoalan eksistensi. Apakah IMM ini khususnya di Jawa Barat sudah eksis? Jika masyarakat secara random ditanya tentang eksistensi Muhammadiyah saya fikir mereka setidaknya pernah mendengar nama Muhammadiyah. Lantas bagaimana jika pertanyaan ini ditanyakan kepada masyarakat mahasiswa, apakah mereka pernah mendengar IMM? Mungkin popularitas dan eksistensi IMM masih di bawa organisasi kemahasiswaan lain.

Kita patut bersyukur DPP IMM 2014-2016 di bawah nakhoda Beni Pramula telah menampilkan performa yang cukup baik. Terlepas dari kontroversi dan kekurangan yang pasti selalu ada, Beni dapat membuat IMM eksis dalam dinamika politik nasional bahkan internasional. DPP IMM di bawah nakhoda Beni Pramula mengusung gagasan “Merebut Momentum, Menduniakan Gerakan”. Merebut momentum diwujudkan dalam gerakan Aliansi Tarik Mandat dengan tagline Luruskan Kiblat Bangsa. Menduniakan gerakan diwujudkan dengan partisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan pemuda internasional bahkan menjadi Presiden Pemuda Asia Afrika.

Bagaimana dengan IMM Jawa Barat? Rasa-rasanya infrastruktur intelektual dan material dalam periode ini masih belum cukup untuk bergerak sebagaimana DPP IMM. Tentu IMM Jabar pun mempunyai corak kearifan local tersendiri yang harus kita gali sehingga tidak mesti meniru DPP IMM. Dalam beberapa kasus ada beberapa PC IMM yang sudah eksis di daerahnya, namun secara umum IMM di Jabar masih perlu ditingkatkan eksistensinya. Inilah mengapa visi yang saya usung untuk IMM Jawa Barat periode 2015-2017 adalah menjadi gerakan mahasiswa yang eksis di Jawa Barat.

Lantas bagaimana langkah-langkah untuk membangun eksistensi tersebut? Sebelum itu, ada sedikit catatan bahwa yang dimaksud di sini adalah eksistensi yang hakiki bukan eksistensi yang semu. Eksistensi hakiki adalah eksistensi yang memang ditopang oleh pondasi yang kokoh, eksistensi karena adanya karya nyata dan kemanfaatan. Eksistensi semu adalah eksis tanpa pondasi hanya dikarenakan sensasi semata. Ada 3 misi yang perlu kita realisasikan agar visi tersebut tercapai, yaitu memperkuat pondasi, memperluas relasi dan memasifkan publikasi.

Sebagus apapun bangunan apabila pondasinya tidak kokoh maka tetap akan rapuh. Oleh karena itu pondasi sangat penting dan jangan dianggap sepele. Pondasi memang tak terlihat oleh mata, karena letaknya tertutup dan tersembunyi. Namun justru pondasi inilah yang sangat berjasa bagi kokohnya sebuah bangunan. Bagi IMM Jawa Barat, pondasi ini dibuat dalam wahana perkaderan.

Perkaderan hendaknya memang menjadi rahim bagi lahirnya kader-kader ideologis dan kompeten yang nantinya dapat menjadi penggerak inti ikatan. Seorang kader IMM hendaknya berideologi Muhammadiyah dan mempunyai tri-kompetensi dasar Ikatan yakni religius, intelek dan humanis. Seorang kader IMM harus religius, dalam sehari minimal membaca 1 halaman dari mushaf Al Quran, dalam seminggu minimal menghafal 5 ayat dari mushaf Al Quran, dalam sebulan minimal mengkaji tafsir dari satu tema pembahasan Al Quran lalu menuliskannya, dan dalam setahun minimal pernah mengisi kajian Islam atau khutbah jumat. Religiusitas kader pun harus diwujudkan dalam kesadaran spiritual berupa ketaatannya dalam melaksanakan ibadah mahdhah.

Seorang kader IMM harus intelek, dalam sehari minimal 10 halaman buku yang dibaca, dalam seminggu minimal satu bab dari sebuah buku dia kuasai dan didiskusikan dengan kawannya, dan dalam sebulan minimal satu buku ditamatkan dan dirangkum dalam sebuah artikel. Hasil bacaan seorang kader terhadap bukunya harus bisa direfleksikan dengan realitas kehidupannya. Bacaan kader bisa buku-buku yang memang jadi disiplin ilmunya, walaupun penting juga membaca selain disiplin ilmunya agar mempunyai wawasan luas.

Seorang kader IMM harus humanis, dalam sehari minimal dia berinteraksi dengan orang lain di lingkungannya agar tidak kuper, dalam seminggu minimal dia menemukan masalah yang perlu diselesaikan dalam sebuah lingkungan social, dalam sebulan minimal ada satu gerakan yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah itu berupa penyuluhan, advokasi atau aksi massa.

Uraian di atas adalah rumusan yang minimal namun sudah ideal apabila bisa dilaksanakan. Walaupun karena bersifat ideal, seringkali di lapangan akan berbenturan dengan realitas. Misalnya ada kader IMM yang sangat humanis, namun kurang suka dengan hal-hal yang sifatnya religius. Atau ada kader yang sangat intelek, namun kurang humanis. Hal pertama yang harus kita fahami bahwa 3 hal ini saling berkesinambungan dan tak dapat dipisahkan. Maka tidak boleh kita hanya memilih salah satu dan meninggalkan yang lain. Walaupun tentu setiap manusia diciptakan Allah swt. dengan minat dan bakat yang berbeda-beda. Maka untuk pengembangannya bisa saja seorang kader memilih untuk focus dalam satu tri-kompetensi, namun untuk hal-hal dasarnya ketiga tri-kompetensi ini harus dikuasai.

Saya termasuk orang yang tidak bisa dan tidak suka olah raga, namun saya faham bahwa olah raga itu penting. Maka saya memaksakan diri untuk 2-3 hari sekali jogging demi menjaga kebugaran tubuh. Hal barusan bisa dianalogikan dengan tri-kompetensi tadi, misalnya ada kader yang tidak bisa atau malas untuk tadarus al Quran setiap hari dan lebih suka berdemonstrasi, namun harus tetap diupayakan membaca al Quran karena hal tersebut adalah kebutuhan bagi terjaganya spiritualitas kader.

Setelah memiliki pondasi yang kokoh, maka yang penting dilakukan adalah memperluas relasi. Dalam terminology barat, memperluas relasi ini dikenal dengan networking, sementara dalam terminology Islam, memperluas relasi adalah silaturahmi. Rasulullah saw. Pernah bersabda, “Barang siapa yang mau rizkinya dilapangkan, dan umurnya dipanjangkan, maka hendaklah ia bersilaturahmi.” Ada dua keuntungan dari luasnya relasi berdasarkan hadits tersebut, yaitu luas rizkinya dan juga panjang umurnya. Relasi ini bisa internal ke dalam persyarikatan Muhammadiyah maupun eksternal kepada pihak-pihak lain yang tidak menyalahi kaidah-kaidah organisasi. Terbukti IMM yang pandai menjalin relasi relative lebih stabil dan massif pergerakannya dibanding dengan yang tidak.

Saat pondasi gerakan IMM sudah kuat dan relasi yang terjalin sudah baik, secara otomatis akan tercipta gerakan dan kegiatan yang baik. Namun terkadang ada satu hal yang kita lupa, yakni publikasi. Muhammadiyah memang gerakan yang mempunyai slogan sedikit bicara dan banyak bekerja. Imbasnya kader Muhammadiyah khususnya IMM terkadang tidak terlalu suka untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatannya di media massa atau media social. Terlebih dalam Islam ada doktrin mengenai keikhlasan. Ikhlas itu berarti tangan kanan berbuat tangan kiri tidak tahu.

Hari ini zaman sudah berubah, siapa yang menguasai isu di media dia dapat mengendalikan masyarakat. Kader IMM harus dapat menjawab tantangan tersebut dengan menafsirkan ulang slogan sedikit bicara banyak bekerja dan doktrin ikhlas. Publikasi kegiatan itu perlu, walaupun tentu ada prinsip moral dan etikanya. Mempublikasikan kegiatan bukan berarti tidak ikhlas atau riya, yang penting niatkan publikasi kegiatan ini sebagai dakwah. Mudah-mudahan apa yang kita publikasikan bisa menjadi inspirasi kebaikan bagi yang lainnya. Yang tidak boleh adalah publikasi dengan tujuan hanya pencitraan saja. Oleh karena itu kader IMM pun perlu menjalin relasi yang baik dengan media massa dan juga dapat memaksimalkan media social.

Inilah uraian yang saya susun sebagai risalah pergerakan IMM Jawa Barat. Seperti yang saya sampaikan pada awal tulisan, wacana ini masih menjadi wacana yang terbuka untuk didekontruksi ataupun direkonstruksi kembali. Apa yang saya uraikan di atas lebih kepada hal-hal yang mungkin terlalu sederhana untuk sebuah konsep gerakan, namun menurut saya inilah kebutuhan mendesak kita saat ini. Adapun mengenai konsep-konsep yang lebih lanjut akan mengikuti. Yang jelas saya harap setelah adanya gagasan ini kita tidak terlalu bingung lagi terhadap arah gerakan IMM Jawa Barat. Saya harap juga kita mempunyai ghirah dalam mewujudkannya. Mari letakkan telunjuk kita 5 cm di depan wajah kita, dan kita berproses mendaki menuju puncak tujuan kita seperti dalam film 5 cm.

Abadi Perjuangan Kami!
Billaahi Fii Sabiililhaq, Fastabiqul Khairaat…

Oleh:Robby Karman

Balas Dendam Yang Benar sesuai dengan Islam




Apakah Dendam Perlu Dibalas?Dendam bermula dari rasa sakit hati. Dalam buku yang berjudul Road To Allah, dendam berarti rasa marah yang kita simpan jauh di dalam hati, sehingga dengan memelihara rasa dendam tersebut dapat merusak hati kita sedikit demi sedikit. Menyimpan rasa dendam, akan mengalami tekanan dan rasa tidak tenang yang berkepanjangan. Itulah mengapa banyak orang yang lebih memilih untuk balas dendam atas rasa sakit yang dialaminya akibat tidak tahannya hati menahan emosi. Sungguh hal yang demikian hanya merusak kesehatan kita. Pasalnya kita tidak bisa berfikir jernih jika terlalu banyak memikirkan cara bagaimana untuk membalas dendam.

Cara Baik Balas Dendam Dalam IslamIslam tidak menganjurkan umatnya untuk mempunyai sifat pendendam. Namun tahukah anda bahwa terdapat satu cara yang baik untuk balas dendam dalam Islam? Cara tersebut adalah dengan menjadi jiwa yang pemaaf. Rasulullah SAW bersabda:"Tidaklah seseorang memafkan kezaliman (terhadap dirinya) kecuali Allah akan menambah kemuliannya" (HR. Ahmad, Muslim dan At Tirmidzi).Lalu bolehkah kita membela diri saat dizalimi? Allah SWT berfirman:"Dan bagi orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri setelah teraniaya tidak ada satupun dosa atas mereka, sesungguhnya dosa itu atas orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat adzab yang pedih. Tetapi orang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang amat utama" (QS. Asy Syuro: 39-43).

Dari ayat tersebut jelas dikatakan bahwa kita boleh membela diri kita ketika disakiti. Namun membela diri dalam hal ini adalah dengan cara memafkan dan berbuat baik, karena Allah telah menjanjikan bagi siapa yang memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang telah menzalimi, maka pahalanya akan langsung ditanggung oleh Allah SWT. Sedangkan bagi pelaku yang menzalimi, niscaya dia akan mendapat balasan yang setimpal dari apa yang dilakukannya langsung dari Allah SWT. Dengan demikian jelaslah bahwa dosa tidak boleh dibalas dengan dosa, namun seringkali kita terbawa oleh hati yang panas untuk membalas dosa dengan dosa. Seperti bila kita mendengar orang lain menjelk-jelekkan, kita sering terbawa emosi lalu menjelek-jelekkannya. Padahal jika ada orang yang menjelekkan kita, kemudia ia membuka aib kita kepada  orang lain, maka pahala orang tersebut akan dilimpahkan kepada kita. Sedangkan dosa dalam dirinya akan bertambah. Mengenai hal ini, Rasulullah SAW bersabda:"Apabila ada seseorang yang mencacimu atau menjelek-jelekkanmu dengan aib yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah kamu balas memburukkannya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya. Maka pahalanya untuk dirimu dan dosanya untuk dia" (HR Al Muhamili dalam Amalinya No 354, Hasan).

Islam Mengajarkan Untuk Membalas Maksiat Dengan Taat dan Membalas Zalim Dengan MaafIslam menganjurkan agar kita membalas dendam dengan cara yang lebih baik, membalas maksiat dengan taat dan membalas zalim dengan maaf. Sungguh Allah SWT Maha mengetahui atas apa yang umat-Nya kerjakan, maka tidak perlu khawatir lagi, tidak perlu merencanakan balas dendam lagi dan tidak perlu bersedih lagi ketika ada orang yang menzalimi kita. Percayalah, jika kita membalasnya dengan kebaikan, dengan doa agar orang yang menzalimi kita mendapat hidayah dari Allah SWT, maka senantiasa Allah SWT berpihak kepada kita dan Allah lah yang akan langsung membela umat-Nya yang terzalimi. Hati yang memaafkan dengan tulus, maka tidak akan ada lagi tersimpan rasa sakit yang berkecamuk. Jika kita sudah mampu memaafkan dengan ikhlas, mampu melupakan kejadian yang telah menyakitinya. Jika tidak mampu melupakan, berarti hati kita belum ikhlas memaafkan. Dan percayalah, setiap kejadian pasti ada hikmah yang ingin ALlah tunjukkan kepada kita. Apa yang perlu kita perbuat adalah sabar, ikhlas memaafkan dan yakin bahwa Allah akan menghapus rasa dendam kita. Membalas keburukan dengan keburukan memang dapat membahagiakan hawa nafsu, tetapi membalas keburukan dengan kebaikan adalah kemenangan manusia di hadapan manusia lain dan di hadapan Allah SWT. Balas dendam adalah virus, virus menyerang mangsanya dan menciptakan virus yang baru. Dendam menciptakan dendam lain yang berbeda. Cara terbaik untuk membalas dendam adalah memaafkan dan menutup peluang mereka untuk melakukan hal yang sama pada anda. Anda melatih diri anda dalam kebaikan dan dendam akan menghancurkannya dalam semalam.

Di kutip dari blogger orang lain.

Senin, 01 September 2014

PESONA LAIL


Malam begitu indah bila kita lihat dengan penuh kerendahan jiwa, karena di balik rutinitas fenomena alam tersebut, banyak tersimpan makna yang harus kita renungi. Ada nya kehidupan malam sangat membuat hati kita bergembira akan ciptaannya, berbagai pemandangan diatas cahaya remang – remang mensyiratkan keagungan tuhan, dapat kita bayangkan ketika malam dating namun cahaya lampu tidak menyapa kita maka gelap gulita yang akan menghampiri dengan seribu macam ketakutan yang menaungi jiwa kita,, berterima kasih kepada segala yang ada membuat hati kita nyaman dan tentram.
Kebaikan akan menghampiri apabila mata hati kita selalu terpancar niat baik yang di emban, hidup bukan hanya untuk berhura – hura dan bersenang ria namun ada yang lebih bermakna dari itu semua yakni sebagai seorang hamba allah yang selalu mengharapkan balasan yang baik.

Saat nya tiba sang fajar, semua cahaya terlihat begitu terang dengan rona – rona positif untuk melangkahkan kaki mencapai rido ilahi

Senin, 16 September 2013

DZIKR & DOA MENJELANG TIDUR

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila seseorang dari kalian hendak tidur, maka hendaklah ia mengibaskan di atas tempat tidurnya dengan kain sarungnya, karena ia tidak tahu apa yang terdapat di atas kasurnya. Lalu mengucapkan doa:

بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

 BISMIKA RABBII WADHA'TU JANBII WABIKA ARFA'UHU, IN AMSAKTA NAFSII FARHAMHAA, WAIN ARSALTAHAA FAHFAHZH-HAA BIMAA TAHFAZHU BIHI 'IBAADAKASHSHAALIHIIN (Dengan nama-Mu Wahai Tuhanku, aku baringkan punggungku dan atas nama-Mu aku mengangkatnya, dan jika Engkau menahan diriku, maka rahmatilah daku, dan jika Engkau melepaskannya, maka jagalah sebagaimana Engkau menjaga hamba-Mu yang shalih)." [HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurayrah]


@kutipan dari Dadang Syarifudin

Rabu, 10 April 2013

Tugas Metode Penelitian






FAKTOR-FAKTOR DALAM DIRI AUDITOR DAN KUALITAS AUDIT:
STUDI PADA KAP ‘BIG FOUR’ DI INDONESIA*
Icuk Rangga Bawono
Jurusan Akuntansi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
e-mail: cukycutes@yahoo.com
Elisha Muliani Singgih
Alumni Jurusan Akuntansi
Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
Di Review Oleh
Ardhian Putra Bintang

1.1       LATAR BELAKANG

Persyaratan yang harus yang harus dimiliki oleh seorang auditor seperti dinyatakan dalam Pernyataan Standar Auditing (SPAP, 2001: 150.1) adalah keahlian dan due professional care. Namun seringkali definisi keahlian dalam bidang auditing diukur dengan pengalaman (Mayangsari, 2003). Rahmawati dan Winarna (2002), dalam risetnya menemukan fakta bahwa pada auditor, expectation gap terjadi karena kurangnya pengalaman kerja dan pengetahuan yang dimiliki hanya sebatas pada bangku kuliah saja. Padahal menurut Djaddang dan Agung (2002) dalam Rahmawati dan Winarna (2002), auditor ketika mengaudit harus memiliki keahlian yang meliputi dua unsur yaitu pengetahuan dan pengalaman. Karena berbagai alas an seperti diungkapkan di atas, pengalaman kerja telah dipandang sebagai suatu faktor penting dalam memprediksi kinerja akuntan publik, dalam hal ini adalah kualitas auditnya. Penting bagi auditor untuk mengimplementasikan due professional care dalam pekerjaan auditnya. Hal ini dikarenakan standard of care untuk auditor berpindah target yaitu menjadi berdasarkan kekerasan konsekuensi dari kegagalan audit. Kualitas audit yang tinggi tidak menjamin dapat melindungi auditor dari kewajiban hukum saat konsekuensi dari kegagalan audit adalah keras (Kadous, 2000). Terlebih dengan adanya fenomena hindsight bias yang sangat merugikan profesi akuntan publik. Jika hindsight bias diberlakukan, maka auditor harus membuat keputusan tanpa pengetahuan hasil akhir, tetapi kewajiban auditor ditentukan dari sebuah perspektif hasil akhir (Anderson dkk, 1997). Dalam mengevaluasi auditor, juri menganggap (in hindsight) bahwa peristiwaperistiwa tertentu secara potensial dapat diprediksi dan (in foresight) seharusnya dapat mengantisipasi sebuah hasil yang menjadi jelas hanya dengan melihat ke belakang (Baron dan Hershey, 1988; Fischhoff, 1975; Mitchell dan Kalb, 1981 dalam Anderson,1997). Oleh karena itu para juri dalam kasus kegagalan audit harus menentukan pada level manakah auditor melakukan kelalaian dengan menilai standard of care untuk mengevaluasi apakah pekerjaan audit yang ditunjukkan cukup untuk menghindari kewajiban (Kadous, 2000) dan para penuntut hukum harus menentukan apakah auditor menggunakan due professional care dalam melakukan sebuah audit (Anderson dkk, 1997).


1.2       RUMUSAN MASALAH
maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah factor – factor dalam diri audit mempengaruhi kualitas audit pada KAP “Big Four” di Indonesia.

1.3       TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh factor – factor dalam diri audit seperti Independensi, pengalaman, due professional care, pengalaman dan akuntabilitas dapat berpengaruh atau tidak terhadap kualitas audit.



Minggu, 15 Juli 2012

Konsep Berpikir Holistik




Sebenarnya, topik ini merupakan isu lama. Tetapi ia sangat relevan untuk dibahas. Apalagi kalau disadari bahwa tema-tema yang dibahas dalam blog LANGIT BIRU ini sangat luas, menjangkau berbagai masalah.

Bertahun-tahun silam, Dr. Hidayat Nur Wahid (HNW) pernah melontarkan kritik terhadap corak pemikiran ensiklopedik. Maksudnya, seorang pemikir, cendekiawan, atau ilmuwan mengkaji berbagai tema-tema berbeda. Ia tidak fokus atau spesialis di bidang tertentu, tetapi membahas banyak masalah. Pemikiran seperti itu beliau sebut sebagai “ilmu wartawan”, lawan dari ilmu spesialis. Mungkin, Ustadz Hidayat sudah melupakan hal ini, tetapi alhamdulillah ia masih teringat.

Sebenarnya, HNW mengarahkan kritiknya kepada Nurcholis Madjid yang menulis banyak essay dengan topik-topik berbeda, mulai dari masalah pemikiran, teologis, spiritual, sejarah, politik, sosial, teknologi, sampai pernah dia membahas materi genetika. Waktu itu HNW masih satu pemikiran dengan Dr. Daud Rasyid dalam mengkritisi pemikiran-pemikiran Nurcholis. Tapi seiring perkembangan, HNW cenderung lunak dengan ide-ide Nurcholis Madjid.

Soal sikap anti terhadap pemikiran Nurcholis Madjid, ya kita sepakat. Alhamdulillah, bi ni’matillah. Tetapi menyebut corak pemikiran ensiklopedik (jika boleh disebut demikian) sebagai “ilmu wartawan” adalah suatu kesalahan serius. Meskipun seseorang pro dengan pengembangan ilmu secara spesialisasi, tidak berarti berpikir holistik (meliputi berbagai bidang kajian) itu keliru.

Dari sisi keragaman tema-tema yang dipilih Nurcholish Madjid, hal itu sudah tepat. Hanya substansi pemikirannya yang sekuler, pluralis, dan liberalis (SEPILIS), itulah yang keliru. Bahkan saya mendapati sebuah kesimpulan, bahwa untuk membangun kebangkitan peradaban Islam kembali, kita membutuhkan lebih banyak lagi para pemikir, cendekiawan, atau ilmuwan yang bersifat holistik, bukan melulu terkurung dalam batas-batas kesempitan spesialisasi ilmu.

Disini ada sekian banyak alasan yang bisa dijadikan hujjah untuk mendukung pentingnya corak pemikiran holistik, yaitu sebagai berikut:

PERTAMA: Kalau Anda pelajari Al Qur’an, maka Anda akan mendapati bahwa Kitab Allah ini membahas berbagai macam bidang kehidupan manusia. Disana ada masalah: ibadah, tauhid, sejarah, hukum, muamalah, bahasa, seni sastra, matematika, sains, sosiologi, komunikasi, pendidikan, dan sebagainya. Sangat banyak bidang-bidang kajian itu. Justru aneh, kalau seseorang membaca Al Qur’an tetapi tidak menangkap pelajaran seperti itu.

KEDUA: Kalau Anda membaca dua kitab hadits yang paling utama, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, maka Anda akan mendapati disana sangat banyak bab-bab pembahasan ilmiah. Mulai dari topik ilmu, thaharah, iman, shalat, zakat, shaum, haji, kisah, akhlak, biografi Nabi dan Shahabat, fadhilah amal, sifat syurga, neraka, Hari Kiamat, muamalah, jual-beli, peperangan, dan sebagainya. Sangat banyak dan menjangkau topik-topik yang luas. Pertanyaannya, apakah keluasan jangkauan itu terjadi secara kebetulan, atau karena memang fithrah manusia mendukung ke arah itu? Tidak mungkin, semua itu terjadi secara kebetulan.

KETIGA: Menurut penelitian para neurologis (ahli syarat), otak manusia sejak lahir telah disiapkan untuk memahami berbagai macam bidang ilmu. Secara potensial hal itu sudah disediakan, tetapi secara realitas kerap kali yang berkembang hanya bagian-bagian tertentu saja dari otak manusia. Kalau tidak percaya, coba tanyakan kepada para ahli syaraf itu! Bahkan sampai ada penelitian tentang otak kanan dan otak kiri yang masing-masing bagian mewakili kecenderungan emosional dan kemampuan intelektual tertentu.

KEEMPAT: Kalau Anda mencermati kehidupan manusia secara individu, kehidupan manusia secara sosial (komunitas), kehidupan hewan dan tumbuhan di alam, serta sistem mikroskopis dan makrokosmos yang ada di alam ini, Anda akan mendapati bahwa tidak ada satu pun makhluk yang independen secara mutlak. Semua makhluk itu terikat dalam sistem inter koneksi (saling terhubung). Artinya, hakikat kehidupan kita ini bersifat komplek, tidak tunggal, tidak mandiri secara mutlak. Dengan demikian, memahami kehidupan ini juga membutuhkan perangkat-perangkat ilmu pengetahuan yang komplek pula. Kalau seseorang hanya berkutat secara fanatik dengan spesialisasinya, dia akan kehilangan banyak kesempatan.

KELIMA: Dalam manajemen modern, banyak pihak telah lama menerapkan sistem pendekatan integral. Misalnya dalam industri perangkat keras komputer. Disana sebuah pabrik komputer tidak hanya merekrut ahli-ahli teknik komputer saja, tetapi mereka juga membutuhkan ahli desain, ahli bahasa, ahli marketing, peneliti sosial, sampai ahli psikologi. Dengan pendekatan yang bersifat menyeluruh (integral), diharapkan keputusan-keputusan manajemen yang diambil lebih dekat kepada realitas konsumen yang dihadapi.

KEENAM: Sejak lama Islam telah melahirkan ahli-ahli agama multi disipliner. Dalam bidang ini ada Ibnu Jarir At Thabari, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Adz Dzahabi, Ibnu Katsir, As Suyuthi, Ibnu Hajar Al Asqalani, Ibnu Khaldun, Al Ghazali, dan sebagainya rahimahumullah jami’an. Kemampuan ilmiah mereka tidak melulu satu bidang saja, tetapi menjangkau banyak bidang, seperti Tafsir, Hadits, Fiqih, Shirah, Tarikh, Sastra Arab, adat-istiadat Arab, dll. Ibnu Jarir misalnya, beliau pernah ingin mendiktekan kisah manusia sejak jaman Nabi Adam As sampai jamannya. Ketika ditanya, “Berapa halaman yang dibutuhkan?” Kata beliau, “50 ribu halaman.” Maka murid-murid beliau mengeluh, “Kalau begitu, habis umur kami hanya untuk mencatat kisah itu.” Akhirnya Ibnu Jarir meringkas “hanya” 5000 halaman saja. Padahal Ibnu Jarir lebih dikenal sebagai seorang ahli Tafsir.

KETUJUH: Islam juga telah melahirkan banyak ilmuwan-ilmuwan multi disilpiner yang menguasai ilmu agama, filsafat, matematika, sains, seni, sejarah, geografi, dan lain-lain. Ilmuwan seperti Ibnu Rusyd, Al Khawarizmi, Al Kindi, Al Jabar, dll. mereka memahami berbagai cabang ilmu sekaligus. Di antara mereka ada yang menguasai bidang optik, navigasi, astronomi, kedokteran, biologi, arsitektur, dan seterusnya. Luar biasa kenyataan itu!

KEDELAPAN: Pemahaman bidang-bidang ilmiah secara holistik akan membawa kepada kebijaksanaan (al hikmah) dan keputusan yang matang. Justru sikap fanatik kepada spesialisasi dan menolak keragaman perspektif, hal itu akan membawa kepada kesempitan pandangan dan kesimpulan yang mentah. Hal itulah yang menyebabkan Ummat Islam dalam masa berabad-abad terjerumus dalam pertikaian karena egoisme pemikiran yang bersifat sektoral. Fanatisme madzhab berawal dari pemikiran sempit yang tidak mau menengok perspektif lain.

KESEMBILAN: Pada hakikatnya, tidak ada satu pun bidang ilmu yang bersifat spesialis murni. Misalnya, ada seorang doktor yang melakukan penelitian serius tentang akidah Syi’ah. Dia tidak akan sampai kepada suatu hasil karya yang matang jika tidak didukung oleh perangkat-perangkat ilmu lain. Misalnya, dia membutuhkan ilmu bahasa, informasi pustaka, rujukan kamus, ilmu sejarah, ilmu terminologi, perdebatan fiqih, perdebatan akidah, dan sebagainya.

KESEPULUH: Dakwah Islam akan lebih berhasil kalau para dai memiliki wawasan multi disipliner. Dengan wawasan itu dia lebih mampu beradaptasi dengan berbagai macam manusia, lingkungan, dan kasus. Menghadapi orang gunung berbeda dengan menghadapi orang pesisir; menghadapi para eksekutif berbeda dengan kaum manula; bahkan orang gunung di Bromo berbeda dengan di Merapi, Dieng, Tangkuban Perahu, dan lainnya. Seseorang yang fanatik spesialisasi, kemungkinan besar dakwahnya akan gagal. Dia tidak siap menghadapi keragaman.

Demikianlah alasan-alasan yang bisa dikemukakan. Singkat kata, sebutan “ilmu wartawan” bagi pengembangan pemikiran yang bersifat holistik adalah suatu kesalahan besar. Jika sebutan “ilmu wartawan” itu diterima, maka kita akan menuduh Al Qur’an, As Sunnah, para ulama, para pakar Islam, dan lain-lain sebagai “ilmu wartawan”. Dan ini adalah kesalahan besar!

Kondisi Riil di Masyarakat

Kalau mau jujur, banyak tokoh-tokoh Muslim di Indonesia yang tidak bekerja sesuai spesialisasinya. Bidang yang dipelajari A, tetapi mereka bergelut di dunia B, C, atau D. Dalam dunia profesi juga demikian. Misalnya sarjana Pertanian, tetapi bekerja sebagai marketing bank; sarjana lulusan ekonomi menjadi ustadz; sarjana lulusan Syariah menjadi birokrat. Nah, hal-hal seperti itu banyak terjadi, karena memang pemberdayaan SDM di kalangan kita kurang. Saya masih ingat, dulu seorang AS. Hikam, dia sarjana sastra dan doktor di bidang politik, menjadi peneliti LIPI, sekaligus politisi PKB. Di jaman Mbah Dur, AS. Hikam pernah menjadi Menteri Riset dan Teknologi, sekaligus Ketua BPPT. Jelas itu sebuah lompatan yang sangat dramatis. “Tak sedap di mato,” kata orang Padang.

Seorang ikhwan di Depok, pernah mendengar ucapan Walitota Depok, Nurmahmudi Ismail. Katanya, Pak Nur pernah mengakui bahwa menjadi Walikota itu jauh lebih sulit daripada menjadi seorang Menteri (Kehutanan). Nah, ini salah satu ilustrasi bagus. Seorang Menteri Kehutanan hanya membidangi satu masalah saja, sedangkan seorang Walikota menghadapi segala macam masalah rakyatnya. Sejak dari masalah anak diare sampai tender proyek, dari soal pembangunan masjid sampai pembuangan sampah, dari masalah gelandangan sampai kunjungan pejabat dari Pusat. Komplek sekali coverage area-nya. Untuk menjadi seorang kepala daerah, sangat dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan multi disipliner.

Saya pernah mendengar sebuah pandangan. Sebagian orang tidak setuju dengan corak studi spesialis. Lho, kok begitu? Katanya, kalau spesialis cara berpikirnya menjadi sempit. Seorang sarjana agama akan keberatan kalau disuruh membuat proposal bisnis; seperti sarjana teknik mesin akan stress kalau disuruh mengajar anak-anak TK. Masalah-masalah di masyarakat seringkali membutuhkan kemampuan multi disipliner, tidak melulu spesialisasi.

Saya sendiri mendapati banyak contoh di sekitar. Seorang teman sarjana IAIN, tetapi mahir ngoprek motor. Teman yang lain pegawai administrasi, tetapi pintar memasak, sampai membuat cake yang rumit-rumit. Seorang sahabat, kuliah di Hama Penyakit Tanaman (HPT), tetapi sehari-hari bekerja di proyek penelitian sipil dan konstruksi. Saudara sendiri lulusan SMA jurusan Biologi, tetapi bekerja di bidang pengelasan mesin-mesin pembangkit listrik. Dia biasa berurusan dengan tower-tower, pipa besar, baja tebal, tabung-tabung, dsb. Bahkan ada saudara yang semula bekerja di Petrokimia, kemudian menjadi asisten pelatih sepak bola. Ada juga seorang kenalan dulu, dia sarjana Teknik Industri, tetapi terjun berbisnis jualan kerupuk. Sebenarnya, kalau mau disisir lebih teliti, sangat banyak contoh para “pelompat pagar” itu. Sekat-sekat spesialisasi tidak menjadi halangan untuk berkiprah di bidang yang diminatinya. Saya sendiri, sejak kecil tidak pernah sekolah agama, ketika kuliah juga mengambil studi umum, tetapi kemudian menjadi penulis.

Sekedar tambahan, lihatlah kerja besar Dr. Harun Yahya. Dalam usahanya melawan dominasi filsafat materialisme di bidang sains, khususnya berkaitan dengan teori Evolusi Darwin, beliau mengerahkan sekian banyak disiplin ilmu. Kalau melihat studi kesarjanaannya, beliau adalah lulusan Jurusan Seni di Universitas Mimar Sinan Turki. Tetapi dalam menghadapi teori Darwin, beliau mengkaji sains Biologi, Paleontologi, Genetika, Geografi, Sejarah, filsafat, bahasa, dan tentu saja Al Qur’an dan Tafsir. Menurut ibu beliau, Harun Yahya di waktu mudanya sangat gigih. Dia bisa sangat lama membaca berbagai referensi sains, termasuk yang berbahasa Inggris. Dulu Imam Al Ghazali rahimahullah menggunakan pemikiran berbagai macam sekte-sekte akidah untuk membantah filsafat Yunani. Salah satu karya monumental beliau adalah Tahafutul Falasifah (kerancuan ilmu filsafat). Keahlian dan wawasan multi disipliner kerap kali dibutuhkan untuk melahirkan karya besar.

Apakah Spesialisasi Ilmu Tidak Perlu?

Tentu saja, spesialisasi sangat dibutuhkan. Ia adalah bagian dari upaya tadabbur (pendalaman) terhadap materi ilmu sedalam-dalamnya. Hanya saja, kebutuhan terhadap spesialisasi itu jangan didasari oleh sikap arogansi, misalnya karena merasa lebih spesialis dari lainnya. Selain itu, kebutuhan kepada spesialisasi juga jangan mematikan konsep berpikir holistik yang diajarkan oleh Al Qur’an, As Sunnah, dan sesuai bakat sistem syaraf manusia itu sendiri.

Kalau mau jujur, spesialisasi adalah kebutuhan wajar manusia. Setiap kita menghadapi masalah-masalah yang bersifat praktis, pasti membutuhkan spesialisasi. Misalnya seorang profesor yang ahli di bidang pemikiran, filsafat, sejarah, dan Sosiologi. Saat dia menghadapi masalah komputer rusak, mesin mobil macet, talang bocor, pompa air ngadat, listrik konslet, pakaian robek, dan sebagainya. Saat itu dia pasti butuh spesialis yang bisa membantunya bekerja secara teknis. Tidak mungkin rasanya, untuk menghadapi semua itu kita hanya bermodal teori-teori yang bersifat global. Jadi, spesialisasi itu kebutuhan riil manusia, khususnya ketika berhadapan dengan masalah-masalah praktis.

Sebuah qudwah mulia dari Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam. Beliau ini Nabinya orang-orang beriman yang dikarunia kemampuan multi disipliner. Beliau adalah seorang Nabi, Rasul, imam Shalat, Mufti, rujukan konseling, pelayan Ummat, pemimpin negara, diplomat, ahli strategi, panglima perang, seorang suami, ayah, mertua, sahabat, tetangga, dan sebagainya. Tetapi saat beliau mendapati masalah-masalah praktis, seperti memasak roti, menjahit baju, memperbaiki sandal, dan sebagainya, beliau bertindak sebagai seorang spesialis.

Bagaimana Posisi “Ilmu Wartawan”?

Sebagian wartawan ada yang sekedar menyampaikan apapun informasi menarik yang mereka temukan. Tetapi wartawan-wartawan senior tertentu memiliki wawasan pengetahuan yang tinggi. Mereka selain berwawasan luas, juga mampu mengaitkan satu persoalan dengan persoalan lain. Selain itu, mereka memiliki kepedulian terhadap catatan sejarah dari waktu ke waktu. Itu kalau benar-benar wartawan yang mumpuni, jurnalis sejati yang mengabdi di lapangan pendidikan publik melalui informasi-informasi dan opini sosial. Wartawan seperti ini di Indonesia tergolong langka, misalnya Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis.

Secara Syar’i, posisi ilmu jurnalistik untuk membangun opini positif tentang Islam dan kaum Muslimin sangatlah tinggi. Ia tidak sesederhana yang dibayangkan. Posisi ilmu seperti itu setara dengan posisi Asbabun Nuzul dalam ilmu-ilmu Al Qur’an. Hal ini membutuhkan kajian yang mendalam yang terlalu panjang jika disatukan disini. Mudah-mudahan suatu nanti ia bisa dibahas. Amin.

Ilmu jurnalistik jika hanya digunakan untuk tujuan komersial, bisnis, atau industri, nilainya tidak seberapa. Tetapi jika ia tulus digunakan untuk membangun masyarakat yang beriman dan bertakwa, maka ia merupakan Jihad agung yang dibutuhkan setiap peradaban Islam. Hal itulah yang selama ini diemban oleh jurnalis-jurnalis Islam yang mukhlis. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.

Upaya Membangun Pemikiran Holistik

Mungkin tema ini terlalu panjang kalau dibahas disini, ia bisa menjadi sebuah buku tersendiri. Soekarno dulu pernah bertutur tentang kisah romantisnya dengan Ibu Hartini. Kata Soekarno, kalau kisah romantis itu diceritakan, mungkin bisa menjadi sebuah buku tersendiri. Tentu, saya tidak bermaksud menduplikasi cara berkelit ala Soekarno. Kalau ada, ya sedikit. (He he he…bisa aja membela diri).

Berikut ini saran-saran untuk membangun metode berpikir holistik:

(1) Dalam upaya ini sebenarnya tidak ada teori khusus, sebab berpikir holistik itu sudah sesuai fithrah manusia. Al Qur’an dan As Sunnah telah di-setting sesuai fithrah manusia. Hal ini merupakan salah satu potensi yang memudahkan setiap Muslim untuk berpikir terbuka dan luas. Alhamdulillah.

(2) Anda harus memahami bahwa kehidupan ini sangat komplek, tidak satu warna, tidak satu bentuk, tidak satu corak. Seperti Anda lihat lingkungan di sekitar Anda, disana ada meja, kursi, lemari, piring, gelas, buku, kertas, pensil, boneka, mainan anak, lampu, tikar, pakaian, sepatu, radio, TV, komputer, kucing, semut, cicak, tanaman, rumput, dan sebagainya. Situasinya komplek! Nah, begitu pula dengan dunia ilmu. Khazanah ilmu sangat luas. Hingga Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan, “Setiap bertambah ilmuku, semakin tahu aku akan kejahilanku.” Dalam Surat Al Kahfi ayat 109 disebutkan, ilmu Allah itu sangat luas. Andai lautan menjadi tinta dan pohon-pohon menjadi pena, lalu ditambahkan sejumlah itu lagi, ia tidak akan bisa menuliskan semua kalimat-kalimat Allah. Konsekuensinya, kalau Anda hanya berpikir dari satu arah saja, enggan melihat arah-arah yang lain, maka sangat banyak kenyataan hidup yang terlewat dari hadapan Anda.

(3) Ketika berhadapan dengan keragaman ilmu-ilmu, Anda jangan merasa minder atau merasa cepat letih untuk memahami semua itu. Kalau Allah hadapkan Anda pada suatu persoalan, berarti Anda telah dipercaya untuk memahami persoalan itu. Bukan hanya ilmu yang terhampar dalam buku-buku, atau di majlis-majlis ilmu, bahkan setiap retakan dinding, gerakan kaki semut, garis-garis kayu, semilir angin, sampai butiran-butiran kerikil yang terinjak kaki, semua itu bisa menjadi sumber pengetahuan. Andai Anda memiliki kesempatan untuk merenungi, lakukanlah. Nikmati, nikmati, dengan niatan menyelami ayat-ayat Allah Ta’ala (ayat kauniyyah). Mungkin waktu itu informasi tersebut belum terlihat manfaatnya, tetapi suatu saat nanti Anda akan mensyukurinya. Bukalah pintu-pintu pikiran Anda untuk merekam ilmu-ilmu kauniyyah seluas-luasnya. Hal ini sungguh sangat bermanfaat, bila telah tiba momentumnya. Alhamdulillah.

(4) Cobalah lebih menghargai ilmu pengetahuan, baik berupa tulisan, perkataan, atau gambar. Seperti disebutkan dalam Al Qur’an, kalau kita bersyukur, maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya. (Surat Ibrahim, 7). Kalau ada orang berbicara, seandainya isinya penting, jangan segan untuk mendengar, meskipun dari orang yang diremehkan sekalipun. Kalau ada tulisan yang bermanfaat, jangan segan untuk membaca, hingga dari kertas-kertas pengumuman yang ditempel. Kadang kita mendapatkan informasi-informasi berharga dari potongan-potongan kertas yang terabaikan.

(5) Alangkah baik kalau setiap kita memiliki buku catatan kecil (semacam agenda) untuk mencatat informasi-informasi penting yang diperoleh, baik yang dicari secara sengaja atau tidak. Ali bin Abi Thalib Ra. mengatakan, “Ikatlah ilmu itu dengan mencatatnya!” Nasehat beliau ini sangat penting sekali. Para ilmuwan rata-rata memiliki catatan pribadi untuk mencatat apapun yang menurut mereka penting. Meskipun saat ini era digital, tidak berarti tulisan manual (manuskrip) itu menjadi tidak berguna. Tidak, ia tetap sangat berguna. Apalagi dalam Surat Al Alaq disebutkan, “‘Allamal insana bil qalam” [(Allah) mengajarkan ilmu kepada manusia dengan pena].” Sampai Hari Kiamat, pena ini tetap dibutuhkan.

(6) Ketika berhadapan dengan lautan ilmu pengetahuan, ada dua pendekatan yang bisa Anda tempuh: Pertama, mengumpulkan manfaat; Kedua, menjadi seorang ilmuwan Muslim. Kalau Anda hanya ingin mengumpulkan manfaat informasi, maka kumpulkan saja informasi yang baik-baik dan bermanfaat, lalu abaikan segala macam informasi yang buruk, tercela, atau tidak penting. Kalau Anda merasa suatu sumber ilmu tidak berguna atau merugikan, segeralah berpaling sejauh-jauhnya. Baik juga kalau Anda berdoa, “Rabbi zidni ilman nafi’an” (wahai Rabb-ku tambahkan kepadaku ilmu yang bermanfaat). Tetapi kalau Anda mau jadi seorang ilmuwan Muslim, harus berani berhadapan dengan konflik pemikiran, konfrontasi ideologi, sampai ikhtilaf yang rumit-rumit. Pilihan kedua itu lebih berat, tetapi derajatnya di sisi Allah tentu lebih mulia. Dalam hadits Tirmidzi disebutkan, “Inna ‘izhamil jaza’i ma’a ‘izhamil bala’” (sesungguhnya besarnya balasan itu setara dengan besarnya ujian). Syaikh Al Albani rahimahullah pernah mengatakan, bahwa di masa mudanya beliau rajin membaca, baik bacaan yang halal maupun haram. (Tentu maksudnya, bukan menyuruh Anda membaca bacaan-bacaan haram, tetapi dalam proses kehidupan seorang ‘alim, konflik pemikiran itu sering terjadi).

(7) Hindari sikap fanatik kepada siapapun, selain kepada Allah dan Rasul-Nya. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan, “Setiap perkataan bisa diambil atau ditolak, selain perkataan penghuni pusara ini.” Kata beliau sambil menunjuk ke makam Nabi Saw di dekat Masjid Nabawi. Ukuran kebenaran ialah timbangan Kitabullah dan Sunnah, bukan fanatisme. Kalau ada orang yang bermaksud mendoktrin agar Anda menjadi manusia fanatik, katakan kepadanya, “Saya tidak mengibadahi Fulan atau Fulan, tetapi mengibadahi Allah Al Wahid.” Fanatik kepada madrasah, kitab, tokoh, atau apapun tidak dibernarkan. Kita boleh memilih salah satu ijtihad ulama’, dengan pertimbangan hal itu yang paling mampu kita lakukan. Meskipun begitu, kita tidak boleh meyakini ijtihad itu sebagai satu-satunya kebenaran, lalu menutup pintu bagi datangnya kebenaran dari arah lain. Bukankah sudah masyhur perkataan Imam Syafi’i, “Jika suatu hadits telah dinyatakan shahih, maka dialah madzhabku.”

(8) Dalam membangun pemikiran ini, kita harus bertumpu kepada keimanan kepada Al Qur’an dan hadits-hadits shahih. Kitabullah dan Sunnah inilah yang akan memberikan kerangka kepada kita untuk menyelami lautan ilmu-ilmu Allah Ta’ala. Tanpa keimanan kepada Kitabullah dan As Sunnah, biarpun Anda hafal isi Encyclopedia Britannica yang puluhan jilid itu, sampai titik-komanya, hal itu tidak ada artinya. Untuk apa Anda mengumpulkan informasi sedemikian banyak, jika ia tidak berguna untuk menuntun hati Anda bersyukur kepada Allah? Kitabullah dan Sunnah akan menjadi kerangka, agar ujung dari semua kiprah ilmiah ini menjadi: Tasyakur billah! Dalam Al Qur’an, “Dan Dialah (Allah) yang telah menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati. Amat sedikit dari kalian yang bersyukur.” (Al Mu’minuun: 78).

(9) Untuk mendalami sesuatu, kita harus memiliki fondasi jiwa yang kokoh. Jika jiwa kita kokoh, mau menggeluti bidang apapun, insya Allah akan paripurna (dalam ukuran manusia). Untuk itu kita butuh tarbiyah ruhiyah. Seperti saran para Wali Songo: membaca Al Qur’an dengan memahami maknanya, shalat malam dijalankan, berkumpul dengan orang Shalih, puasa Sunnah di siang hari, serta tekun berdzikir di malam hari. Saya tambahkan lagi: Berdoa kepada Allah, bertaubat kepada-Nya, senang membantu sesama Muslim, dan sebagainya. Dengan cara demikian, Anda akan dianugerahi kekuatan jiwa. Insya Allah.

(10) Selanjutnya, kita perlu mengamalkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh. Mungkin sulit mengamalkan seluruh ilmu itu, tetapi semoga Allah memberi kita taufik untuk mengamalkan sebagiannya dan Dia memaafkan kita atas ilmu-ilmu yang belum diamalkan dengan baik. Allahumma amin. Dan tentu saja, ilmu-ilmu itu juga perlu dibagi kepada Ummat Islam, dengan tanpa pamrih, dengan komitmen menyampaikan kebenaran, dan tidak takut selain hanya kepada-Nya. Jangan pelit untuk berbagi kebaikan. Contohlah Dr. Harun Yahya, semoga Allah selalu menjaganya, dia tidak segan membagikan ilmunya secara free charge ke seluruh dunia (tidak memungut royalti). Begitu pula situs Al Meshkat, mereka berletih-letih membangun Al Maktabah As Syamilah yang luar biasa itu, lalu membagikannya gratis ke seluruh dunia. Banyak para ulama di Timur Tengah yang membiarkan buku-bukunya tersebar meluas, tanpa pelit mempertanyakan hak royaltinya. Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan, “Aku berharap seandainya ilmuku tersebar seperti angin, dan orang tidak perlu tahu dari mana ia berasal.” Contohlah manusia-manusia budiman ini, jangan menjadi manusia koret dalam ilmu, sehingga Allah pun enggan membukakan keluasan khazanah ilmu-Nya. Jadilah hamba yang mulia dengan melayani ilmu dan kebenaran di jalan Allah Ta’ala.

(11) Bagaimanapun tubuh kita membutuhkan istirahat dan syaraf-syaraf kita membutuhkan pereda ketegangan (refreshing). Ibarat mesin yang terus dipacu, tanpa kenal henti, ia akan cepat rusak. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan-keterbatasan fisik, sehingga butuh istirahat di sela-sela kepenatan dan segala keletihan. Hiburan yang cerdas dan sehat sangat membantu melemaskan ketegangan. Sebuah nasehat berharga yang pernah disampaikan seseorang, “Tubuhmu ini satu-satunya yang kau miliki, maka jagalah ia sebaik-baiknya.” Boleh kita beristirahat, berhibur, atau menikmati jamuan rizki Allah. Semua itu halal, selama tidak berlebih-lebihan. Dalam Al Qur’an, “Dan makanlah kalian dan minumlah, namun janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al A’raaf: 31). Kalau mau jujur, sumber-sumber hiburan itu sangat banyak. Hingga senyuman anak kita, tawa lepas mereka, atau kepolosan kata-katanya, ia bisa menjadi hiburan yang menggembirakan hati. Alhamdulillah. Bahkan obrolan ringan di jalan, di atas kendaraan, di depan warung, di tempat wudhu, dan sebagainya, hal itu juga bisa menjadi sumber hiburan. Tidak berlebihan jika Nabi mengajarkan agar kita murah senyum kepada sesama Muslim, menebar salam, berkata-kata yang baik, menyambung shilaturahim, dan sebagainya. Semua itu tanpa disadari adalah pereda berbagai ketegangan yang menyelimuti diri.

Selanjutnya, saat kita berbicara tentang pendidikan generasi, ajarkanlah konsep berpikir holistik kepada anak-anak. Jangan membatasi kebebasan mereka untuk merambah pengetahuan seluas mungkin, selama ia baik, terpuji, dan bermanfaat. Yakinlah, fithrah mereka telah disiapkan untuk itu. Bahkan berpikir holistik akan memudahkan mereka memahami Kitabullah dan Sunnah. Adapun spesialisasi tetap diperlukan, sebab bagaimanapun kita akan menghadapi masalah-masalah teknis yang dicapai dengan spesialisasi. Konsep berpikirnya holistik, tetapi masing-masing tetap memiliki spesialisasi di bidang-bidang tertentu. Seperti yang saya alami, ketika berbicara soal media, penerbitan, atau bisnis tetap berpikir spesialis.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga hal ini bermanfaat bagi Anda, saya, keluarga kami, kita semua, dan kaum Muslimin. Allahumma amin. Saran, kritik, masukan, insya Allah akan diterima dengan lapang hati. Boleh melalui e-mail, boleh juga lewat komentar di blog ini. Bila Allah ijinkan, mungkin kita bisa bertemu muka suatu saat nanti. Mohon doanya selalu, agar Allah memudahkan upaya ini. Tidak ada yang bisa diandalkan pertolongan dan perlindungannya, selain Allah Ta’ala. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.

Wallahu a’lam bisshawab.

Ardhillah, 5 November 2008.


Rabu, 18 November 2009

DESIGN BAJU

OBRAL BAJU MURAH !!!!




Type 1

HARGA
Rp. 15.000,-
Stock hanya 5 buah


Type 2

HARGA
Rp. 20.000
Kolektif lebih murah
ayoooo .... buruan beli stock terbatas




Type 3


HARGA
Rp.25.000,00
Stock lumayan banyak


ayo buruan pesan keburu KEHABISAN..........